'Ngopi Kreatif' Ala Dosen UTU di Seladang Cafe, Bener Meriah
  • UTU News
  • 26. 11. 2020
  • 0
  • 384

Oleh : Aduwina Pakeh (Peserta Kemah Kreatif UTU 2020).

Menikmati cita rasa kopi di Cafe di perkotaam merupakan hal yang biasa, namun ngopi di kebun kopi di tengah ratusan batang kopi arabica gayo ditambah rindangnya pepohonan lamtoro yang menjadi peneduh suasana, sungguh akan memberikan pengalaman yang berbeda.

Kamis, 26 November 2020 sekira pukul 16.00 WIB rombongan Dosen Universitas Teuku Umar yang dipimpin langsung oleh Rektor Prof. Jasman, Wakil Rektor I Dr. Alfizar, Wakil Rektor II Dr. Ishak Hasan dan Dekan Ekonomi Dr. T. Zulham yang turut didampingi oleh istri masing-masing mengunjungi Seladang Coffee, sebuah kedai kopi yang berada di tengah areal perkebunan kopi rakyat, di kawasan Kampung Jamur Ujung, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah.

Kunjungan sekitar 20 dosen muda UTU ini dilakukan disela-sela kegiatan Kemah Kreatif peningkatan kompetensi dosen dalam bimbingan proposal PKM 2020 yang berlangsung di Grand Renggali Hotel, Takengon. Lokasi Seladang Coffee ini  sangat mudah dijangkau, karena berada tepat di tepi ruas jalan Takengon-Bireuen, pada kilometer 86; yang setiap saat ramai dilalui para pengendara.

Benar apa yang selama ini digambarkan oleh banyak media, jika suasana Seladang Coffee sangat bersahabat bagi para pengujung, kedatangan kami disambut langsung oleh pemilik coffee shop ini, Sadikin. Ia seorang pria berambut gondrong ala Kaka Slank, ia senang dipanggil namanya  "Gembel".

Keramahan, senyum persahabatan, dan sifat melayani tamu menjadi kesan pertama kami setiba di lokasi ini. Luas area kebun kopi ini lebih kurang 5 hektare, dengan umur kopi berkisar 3 sampai 5 tahun. Tak hanya luas, lingkungan perkebunan juga terlihat bersih.

Jalan setapak dan halaman parkir yang luas menjadi fasilitas yang memadai, ditambah fasilitas toilet dengan suara musik yang membuat tempat ini sangat berbeda dari daerah-daerah lain yang pernah kami kunjungi.

Tak hanya itu, perkebunan ini memiliki rumah singgah dengan warung kopinya. Inilah nuansa yang berbeda dan tentunya tidak saya dapatkan pada kebun-kebun kopi lain yang pernah saya kunjungi.

Kami dijamu disebuah pondok yang benar-benar terdapat ditengah kebun kopi yang rindang. Udara sejuk nan segar yang berhembus dari alam pegunungan Dataran Tinggi Gayo ini menambah kenikmatan dari setiap tegukan kopi panas yang dihidangkan.

Seladang Coffee benar-benar menawarkan suasana berbeda bagi para penikmat kopi. Tempat ini bahkan telah menjadi ikon agrowisata kebun kopi di daerahnya. Ada perpaduan antara tradisi dan budaya masyarakat Gayo yang begitu bersahabat dengan kopi. Mulai dari tata cara merawat, memanen, mengolah, hingga menyajikan secangkir kopi berkualitas dunia; dapat anda saksikan sendiri di tempat ini.

Ngopi sore ini terasa sangat berbeda, selain karena ngopi di tengah kebun kopi, suasana keakraban antara dosen dan pimpinan sangat jelas terasa. Suasana yang nyaris tidak pernah dirasakan sebelumnya oleh kalangan dosen muda ini. Suasana kebersamaan, keceriaan dan canda tawa berlangsung sepanjang pertemuan.

Bak acara show di Tivi populer, para dosen ini mendapatkan kesempatan untuk "menguliti" kisah dan perjalanan hidup masing-masing pimpinan, termasuk kisah cinta diantara mereka dan pasangan. Inilah yang disebut "Ngopi Kreatif" tidak akan pernah didapatkan ditempat lain. Jikapun ada suasananya sudah bisa dipastikan bukan di kebun kopi.

Tak sungkan, ibarat orangtua sedang menceritakan kisah pertemuan, perjalanan hidup mereka kepada anak-anaknya. Begitupun yang kami rasakan. Bertindak sebagai "Host" adalah Ketua DWP UTU Ibu Ardawalis. Bagai "time traveler",  beliau mengantarkan kami ke masa lalu (20 - 25 tahun silam) dengan kisah-kisah heroik dan romantis. Dari kisah mereka, banyak hal positif yang kami dapatkan, suri teladan yang menggambarkan bagaimana mereka bisa bertahan dan meraih sukses dalam karirnya, tentu dengan adanya dukungan dari masing-masing pasangan.

Bagi para dosen, terutama dosen muda yang juga baru dalam menahkodai bahtera rumah tangga, kisah-kisah itu dapat menjadi pemantik semangat untuk terus berjuang baik dalam meniti karir maupun dalam membina kehidupan keluarga untuk mencapai sakinah mawaddah warahmah.

Komentar :

Lainnya :